Berbicara tentang kemandirian, kita tentu ingin mengetahui “Ciri-ciri Kemandirian”. Dengan mengetahui, kita dapat memastikan goal kemandirian yang akan dicapai. Apakah sudah tepat jika menyatakan mandiri?

Beberapa ahli mengemukankan pendapatnya tentang ciri-ciri kemandirian. Pendapat-pendapat para ahli, seperti Gilmore dalam Chabib Thoha, Lindzey & Ritter, Hasan Basri, Antonius, menyebutkan hal-hal berikut ini dalam ciri-ciri kemandirian.

  1. Ada rasa tanggung jawab
  2. Mampu bekerja sendiri secara mandiri  (jarang meminta pertolongan orang lain)
  3. Memiliki sikap kreatif,
  4. Punya insiatif,
  5. Menguasa ketrampilan dan keahlian sesuai dengan bidang kerjanya
  6. Menghargai waktu
  7. Punya rasa aman jika memiliki pendapat yang berbeda dengan orang lain
  8. Memiliki menyelesaikan persoalan
  9. Mampu menimbangan dengan baik problem yang dihadapi secara intelegen
  10. Puas dengan pekerjaan yang dilakukannya.
  11. Punya percaya diri
  12. Dapat melayani diri sendiri, terutama untuk hal-hal pribadi

Ciri-ciri tersebut diambil oleh para ahli melalui melalui pengamatan kehidupan bermasyarakat dan adat istiadat masyarakat ataupun penelitian.

Bagaimana jika ciri-ciri kemandirian ini dihubungkan dengan anak-anak berkebutuhan khusus? Selain 12 ciri di atas, masih ada tambahan lagi dari ciri-ciri tersebut. Tambahan ciri tersebut dihubungkan dengan tantangan/ hambatan akibat kekhususannya.

Tantangan terbesar individu yang memiliki kekhususan adalah mennyelesaikan tantangannya yang terkait dengan kekhususannya sebagai anak berkebutuhan khusus. Sehingga definisi mandiri bagi anak berkebutuhan khususpun menjadi bervariasi, tergantung jenis kekhususan dan hambatannya. Seperti anak penyandang disabilitas pengelihatan yang mencoba untuk mampu “melihat” dengan alat bantu.  Atau penyandang autism yang mencoba mengembakan kemampuannya berkomunikasi, berinteraksi sosial ataupun mengendalikan perilakunya yang dianggap tidak wajar dilakukan oleh anak-anak pada umumnya. Bukan hal mudah, tetapi juga bukan tidak mungkin.

Alat bantu, fasilitas, dukungan moral maupun fisik sangat dibutuhkan anak-anak berkebutuhan khusus, menjadi salah satu solusi bagi pemulihan ataupun pengembangan kemampuan diri. Misalnya, anak penyandang disabilitas pengelihatan, menggunakan kacamata, instruksi dengan menggunakan suara sebagai penganti instruksi tertulis atau tulisan braille, sebagai alat bantu dan fasilitas.  Hingga seorang anak penyandang disabilitas pengelihatan dapat berinteraksi dan berkarya sebagaimana anak-anak lainnya.

Yang penting dari bahasan kali ini adalah, anak-anak yang telah menunjukkan ciri-ciri mandiri, berhak untuk mendapatkan kepercayaan dari orangtua ataupun orang-orang dewasa yang ada disekelilingnya. Walaupun ciri-ciri yang ditunjukkan masih sangat awal dan sederhana. Anak-anak yang mendapat kepercayaan mereka telah mampu mandiri, mampu melakukan hal-hal yang dapat membuat mereka tidak berbeda dengan anak-anak lain. Sedangkan dengan memperlakukan mereka masih tetap sama, sebagaimana ia belum mandiri, justru akan membuat Ananda mengalami kemunduran. Rasa percaya dirinya menurun, berkarya tidaklah memuaskan. Anak kembali bergantung. Peran serta orangtua dan orang-orang dewasa yang ada di sekeliling sangat menentukan perkembangan anak-anak berkebutuhan khusus ini makin meningkat kemandiriannya.Sebagai contoh, anak yang sudah mampu mencuci piring sendiri, dilarang untuk mencuci piring. Dengan alasannya ananda belum mencapai standrat kebersihan yang dimiliki orangtua, atau orangtua tidak tega melihatnya mencuci piring. Alasan-alasan ini membuat anak merasa tidak percaya diri dan enggan mencuci piringnya sendiri.

Agar anak-anak berkebutuhan khusus dapat mandiri, perlu dibuatkan program pengembangan kemandirian. Program ini dapat dibuat mulai dari hal yang paling mudah bagi anak dan mengacu pada ciri-ciri kemandirian sesuai level yang dikuasai oleh ananda. Saat mengaplikasikan, lakukan secara berkesinambungan, konsisten dan terintegrasi. Orangtua atau orang dewasa yang ada di sekelilingnya dapat membantu dengan cara memantau   pencapaian perkembangan kemandirian ananda, melakukan evaluasi secara berkala, merubah program agar anak-anak mampu dengan mudah mengerjakan dan tentu saja  membuat program lanjutan. Jika dilakukan dengan baik, anak-anak berkebutuhan khusus juga mampu mandiri.

by : Bunda Nefri, “Trainer Kemandirian Anak Berkebutuhan Khusus”