Membahas tentang Kemandirian Anak seakan topik yang tak pernah habis dibicarakan. Begitu banyak tahap-tahapnya dan sangat penting untuk memastikan anak-anak kita mencapai semua tahap-tahap kemandirian tersebut sesuai dengan usia perkembangan mereka. Hal ini terutama menjadi lebih penting bagi anak-anak yang berhambatan.

Artikel kali ini kami kutipkan dari karya Bpk Ahmad Susanto (ahm.susanto@gmail.com), Dosen Tetap FIP-UMJ. Agak panjang, dan sebaiknya disimak sampai tuntas. Jadi silakan siapkan secangkir teh atau cappucino dan sedikit cemilan sebelum membaca.

Silakan mengikuti, dan tinggalkan komentar Anda.

Ingin Belajar Lebih Lanjut tentang  “Kemandirian” KLIK DI SINI

Abstrak

Kemandirian (autonomi) harus diperkenalkan kepada anak sedini mungkin. Dengan kemandirian tersebut anak akan terhindar dari sifat ketergantungan pada orang lain, dan yang terpenting adalah menumbuhkan keberanian dan motivasi pada anak untuk terus mengekspresikan pengetahuan-pengetahuan baru. Untuk itu, perlu kiranya kita memahami apa yang dapat mempengaruhi kemandirian anak serta bagaimana upaya yang dapat ditempuh untuk mengembangkan kemandirian anak tersebut.

 

Abstract

Independence (autonomy) should be introduced to children as early as possible. With independence of children will be spared from the nature of dependence on others, and most importantly, the courage and the motivation of the child to continue to express new knowledge. For that reason, it is important we understand what can affect the child’s independence and how efforts can be taken to develop the child’s independence.

Key words: Kemandirian, anak usia dini

 

Kemandirian adalah sikap dan perilaku seseorang yang mencerminkan perbuatan yang cenderung individual (mandiri), tanpa bantuan dan pertolongan dari orang lain. Kemandirian identik dengan kedewasaan, berbuat sesuatu tidak harus ditentukan atau diarahkan sepenuhnya oleh orang lain. Kemandirian anak sangat diperlukan dalam rangka membekali mereka untuk menjalani kehidupan yang akan datang.  Dengan kemandirian ini seorang anak akan mampu untuk menentukan pilihan yang ia anggap benar, selain itu ia berani memutuskan pilihannya dan bertanggung jawab atas resiko dan konsekwensi yang diakibatkan dari pilihannya tersebut.

Menurut Bacharuddin Mustafa (2008: 75) kemandirian adalah kemampuan untuk mengambil pilihan dan menerima konsekwensi yang menyertainya.Kemandirian pada anak-anak mewujud ketika mereka menggunakan pikirannya sendiri dalam mengambil berbagai keputusan; dari memilih perlengkapan belajar yang ingin digunakannya, memilih teman bermain, sampai hal-hal yang relatif lebih rumit dan menyertakan konsekwensi-konsekwensi tertentu yang lebih serius.

Selanjutnya Bacharuddin (2008: 75) menjelaskan bahwa tumbuhnya kemandirian pada anak-anak bersamaan dengan munculnya rasa takut (kekuatiran) dalam berbagai bentuk dan intensitasnya yang berbeda-beda. Rasa takut dalam takarannya yang wajar dapat berfungsi sebagai ‘emosi perlindungan’ (protective emotion) bagi anak-anak, yang memungkinkannya mengetahui kapan waktunya meminta perlindungan kepada orang dewasa atau orang tuanya.

Sedangkan menurut Syamsu Yusuf (2008: 130) kemandirian merupakan karakteristik dari kepribadian yang sehat (healthy personality). Kemandirian individu tercermin dalam cara berpikir dan bertindak, mampu mengambil keputusan, mengarahkan dan mengembangkan diri, serta menyesuaikan diri secara konstruktif dengan norma yang berlaku di lingkungannya.

Sementara Megan Northrup, dalam Research Assistant dan disunting oleh Stephen F. Duncan, guru besar dari School of Family Life Birmingham Young University, menjelaskan:

As children grow, they should be given more and more independence. At a young age children can select the clothes they wear, food they eat, places to sit, and other small decisions. Older children can have more of a say in choosing appropriate time to be at home, when and where to study, and which friends to associate with. The goal is to prepare children for the day they will leave their family and live without parental control(www.foreverfamilies.net/xml/ articles/teaching_children_self_regulation).

Kemandirian yang dikemukakan oleh Northrup tersebut di atas diartikan sebagai kemampuan seorang anak untuk menentukan pilihan yang ia anggap benar, berani memutuskan pilihannya, dan bertanggung jawab atas resiko dan konsekwensi yang diakibatkan dari pilihannya tersebut.

Dengan mengacu kepada definisi tersebut, sedikitnya ada delapan unsur yang menyertai makna kemandirian bagi seorang anak, yaitu antara lain:

  1. Kemampuan untuk menentukan pilihan;
  2. Berani memutuskan atas pilihannya sendiri;
  3. Bertanggungjawab menerima konsekwensi yang menyertai pilihannya;
  4. Percaya diri;
  5. Mengarahkan diri;
  6. Mengembangkan diri;
  7. Menyesuaikan diri dengan lingkungannya;
  8. Berani mengambil resiko atas pilihannya.

Unsur-unsur atau indikator kemandirian tersebut di atas, tentu pada anak usia dini berbeda dengan makna kemandirian bagi orang dewasa. Bagi anak usia dini kemandirian sifatnya masih dalam taraf yang sangat sederhana, sesuai dengan tingkat perkembangannya. Selain itu, indikator tersebut bagi anak-anak usia dini pada negara-negara berkembang tentu masih sangat berat, apalagi anak-anak di pedesaan atau perkampungan terpencil, jauh dari perkotaan sulit menerapkan unsur-unsur tersebut sesuai dengan indikator kemandirian anak menurut Northrup.

Dalam mendorong tumbuhnya kemandirian anak usia dini, Bacharudin Musthafa (2008: 75) menyarankan agar orang tua dan guru perlu memberikan berbagai pilihan dan bila memungkinkan sekaligus memberikan gambaran kemungkinan konsekwensi yang menyertai pilihan yang diambilnya.Dalam konteks persekolahan atau taman kanak-kanak, aspirasi dan kemauan anak-anak pembelajar perlu didengar dan diakomodasi. Dalam konteks lingkungan keluarga di ruamah, ini menuntut orang tua untuk lebih telaten dan sabar dengan cara memberikan berbagai pilihan dan membicarakanya secara seksama dengan anak-anak setiap kali mereka dihadapkan pada pembuatan keputusan-keputusan penting. Semua ini diharapkan agar anak dapat membuat keputusan secara mandiri dan belajar dari konsekwensi yang ditimbulkan keputusan yang diambilnya.

Tahukah Anda Jenis dan Tahap Kemandirian Anak? KLIK DI SINI”

Ciri-ciri Kemandirian Anak

Anak yang mandiri adalah anak yang memiliki kepercayaan diri dan motivasi yang tinggi. Sehingga dalam setiap tingkah lakunya tidak banyak menggantungkan diri pada orang lain, biasanya pada orang tuanya. Anak yang kurang mandiri selalu ingin ditemani atau ditunggui oleh orang tuanya, baik pada saat sekolah maupun pada saat bermain. Kemana-mana harus ditemani orang tua atau saudaranya. Berbeda dengan anak yang memiliki kemandiran, ia berani memutuskan pilihannya sendiri, tingkat kepercayaan dirinya lebih nampak, dan mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan dan teman bermain maupun orang asing yang baru dikenalnya.

Menurut Zimmerman yang dikutif oleh Tillman dan Weiss (2000) anak yang mandiri itu adalah anak yang mempunyai kepercayaan diri dan motivasi instrinsik yang tinggi. Zimmerman yakin bahwa kepercayaan diri dan motivasi instrinsik tersebut merupakan kunci utama bagi kemandirian anak. Dengan kepercayaan dirinya, anak berani tampil dan berekspresi di depan orang banyak atau di depan umum. Penampilannya tidak terlihat malu-malu, kaku, atau canggung,tapi ia mampu beraksi dengan wajar dan bahkan mengesankan. Sementara, motivasi instrinsik, atau motivasi bawaan, dapat membawa anak untuk berkembang lebih cepat, terutama perkembangan otak atau kognitifnya. Anak yang memiliki motivasi tinggi ini dapat terlihat dari perilakunya yang aktif, kreatif, dan memiliki sifat ingin tahu (curiositas) yang tinggi. Anak tersebut biasanya selalu banyak bertanya dan serba ingin tahu, selalu mencobanya, mempraktekkannya, dan mencoba-coba sesuatu yang baru.

Sedangkan menurut Puntrich (1999) anak mandiri itu adalah anak yang mampu menggabungkan motivasi dan kognitifnya sekaligus, sehinggga dapat dikatakan bahwa menjadi anak yang mandiri tergantung pada kepercayaan terhadap diri sendiri dan motivasinya. Pada aspek motivasi, anak yang mandiri, biasanya ditandai dengan kemauannya yang keras, tidak cepat putus asa, bahkan tidak cepat bosan sebelum ia mampu mengetahui dan mencapai sesuatu yang dicarinya. Sementara pada aspek kognitif, anak telah memiliki banyak pengetahuan dan perbendaharaan kata atau kalimat yang diutarakannya. Dengan segenap pengetahuan dan perbendaharaan kata tersebut, maka akan memuculkan sikap mandiri dan keberanian yang tinggi, baik dalam sikap dan perbuatannya, maupun dalam menetapkan keputusan yang diambilnya.

Selanjutnya, Tim Pustaka Familia (2006: 45) memberikan beberapa ciri khas anak mandiri, yaitu:

1) mempunyai kecenderungan memecahkan masalah dari pada berkutat dalam kekhawatiran bila terlibat masalah;

2) tidak takut mengambil resiko karena sudah mempertimbangkan baik-buruknya;

3) percaya terhadap penilaian sendiri sehingga tidak sedikit-sedikit bertanya atau minta bantuan, dan

4) mempunyai kontrol yang lebih baik terhadap hidupnya.

Dengan membaca beberapa pendapat di atas, dapat dipahami bahwa sebetulnya setiap anak itu cenderung untuk mandiri atau memiliki potensi untuk mandiri, karena setiap anak dikarunia perasaan, pikiran, kehendak sendiri, yang kesemuanya itu merupakan totalitas psikis dan sifat-sifat serta struktur yang berlainan pada tiap-tiap fase perkembangannya.

Selain itu, kemandirian anak juga sangat dipengaruhi oleh perlakuan orang tua atau saudara-saudaranya dalam keluarga. Anak yang selalu diawasi secara ketat, banyak dicegah atau selalu dilarang dalam setiap aktivitasnya dapat berakibat patahnya kemandirian seseorang. Sikap yang bijak dan perlakuan yang wajar pada anak dapat memicu tumbuhnya kemandirian anak. Orang tua yang terlalu protektif pada anaknya, terlalu ketat pengawasannya, banyak dicegah, dengan alasan takut kotor, takut merusak, atau kekhawatiran terjadi kecelakaan, pada akhirnya bisa berakibat fatal. Alih-alih bermaksud untuk melindungi atau menjaga anak dari kecelakaan, kebersihan, dan kerusakan, malah membuat anak menjadi penakut, kurang percaya diri, serta serba ketergantungan pada orang lain.

Sikap yang wajar dan tidak berlebihan yang perlu dilakukan oleh orang tua terhadap anaknya adalah sebagaimana yang dikemukakan oleh Sylvia Rimm (2003: 47), yang menyatakan bahwa untuk menumbuhkan sikap percaya diri anak salah satunya adalah senang melihat keberhasilan anak dan kecewa melihat sikap buruk mereka. Cara ini, menurut Rimm, dianggap sebagai alat paling efektif dalam menerapkan disiplin pada anak. Cara lain, yang dikemukakan Rimm, adalah adakalanya orang tua perlu meninggikan nada suara serta bersikap tegas dalam memberikan batasan kepada anak agar rasa percaya diri bisa tumbuh dalam diri anak.

Dengan meramu dari beberapa pendapat di atas, dapat dipahami bahwa ciri-ciri kemandirian anak, termasuk juga pada anak usia dini, adalah sebagai berikut:

  1. Kepercayaan pada diri sendiri. Rasa percaya diri, atau dalam kalangan anak muda biasa disebut dengan istilah ‘PD’ini sengaja ditempatkan sebagai ciri pertama dari sifat kemandirian anak, karena memang rasa percaya diri ini memegang peran penting bagi seseorang, termasuk anak usia dini, dalam bersikap dan bertingkah laku atau dalam beraktivitas sehari-hari. Anak yang memiliki kepercayaan diri lebih berani untuk melakukan sesuatu, menentukan pilian sesuai dengan kehendaknya sendiri dan bertanggung jawab terhadap konsekwensi yang ditimbulkan karena pilihannya. Kepercayaan diri sangat terkait dengan kemandirian anak. Dalam kasus tertentu, anak yang memiliki percaya diri yang tinggi dapat menutupi kekurangan dan kebodohan yang melekat pada dirinya. Oleh karena itu, dalam berbagai kesempatan, sikap percaya diri perlu ditanamkan dan dipupuk sejak awal pada anak usia dini ini.
  2. Motivasi instrinsik yang tinggi. Motivasi instrinsik adalah dorongan yang tumbuh dalam diri untuk melakukan sesuatu. Motivasi instrinsik biasanya lebih kuat dan abadi dibandingkan dengan motivasi ekstrinsik walupun kedua motivasi ini kadang berkurnag, tapi kadang juga bertambah. Kekuatan yang datang dari dalam akan mampu menggerakkan untuk melakukan sesuatu yang diinginkan. Keingintahuan seseorang yang murni adalah merupakan salah satu contoh motivsasi instrinsik. Dengan adanya keingintahuan yang mendalam ini dapat mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu yang memungkinkan ia memperoleh apa yang dicita-citakannya. Dengan keinginan dan tekad yang kuat, orang biasanya menjadi lupa waktu, keadaan, dan bahkan lupa diri sendiri.
  3. Mampu dan berani menentukan pilihan sendiri. Anak mandiri memiliki kemampuan dan keberanian dalam menentukan pilihan sendiri. Misalnya dalam memilih alat bermain atau alat belajar yang akan digunakannya.
  4. Kreatif dan inovatif. Kreatif dan inovatif pada anak usia dini merupakan ciri anak yang memiliki kemandirian, seperti dalam melakukan sesuatu atas kehendak sendiri tanpa disuruh oleh orang lain, tidak ketergantungan kepada orang lain dalam melakukan sesuatu, meyukai pada hal-hal baru yang semula dia belum tahu, dan selalu ingin mencoba hal-hal yang baru.
  5. Bertanggung jawab menerima konsekwensi yang menyertai pilihannya. Di dalam mengambil keputuan atau pilihan tentu ada konsekwensi yang melekat pada pilihannya. Anak yang mandiri dia bertanggung jawab atas keputusan yang diambilnya apapun yang terjadi tentu saja bagi anak Taman Kanak-kanak tanggung jawab pada taraf yang wajar. Misalnya tidak menangis ketika ia salah mengambil alat mainan, dengan senang hati mengganti dengan alat mainan yang lain yang diinginkannya.
  6. Menyesuiaiakan diri dengan lingkungannya. Lingkungan sekolah (Taman Kanak-kanak) merupakan lingkungan baru bagi anak-anak. Sering dijumpai anak menangis ketika pertama masuk sekolah karena mereka merasa asing dengan lingkungan di Taman Kanak-kanak bahkan tidak sedikit yang ingin ditunggui oleh orang tuanya ketika anak sedang belajar. Namun, bagi anak yang memiliki kemandirian, dia akan cepat menyesuaiakan diri degan lingkungan yang baru.
  7. Tidak ketergantungan kepada orang lain. Anak mandiri selalu ingin mencoba sendiri-sendiri dalam melakukan sesuatu tidak bergantung pada orang lain dan anak tahu kapan waktunya meminta bantuan orang lain, setelah anak berusaha melakukannya sendiri tetapi tidak mampu untuk mendapatkannya, baru anak meminta bantuan orang lain. Seperti mengambil alat mainan yang berada di tempat yang tidak terjangkau oleh anak.

Upaya Mengembangkan Kemandirian Anak

Mengembangkan kemandirian pada anak pada prinsipnya adalah dengan memberikan kesempatan untuk terlibat dalam berbagai akivitas. Semakin banyak kesempatan yang diberikan pada anak, maka anak akan semakin terampil mengembangkan skillnya sehingga lebih percaya diri. Upaya-upaya yang dapat dilakukan dalam rangka mengembangkan kemamdirian anak ini, sebagaimana yang disarankan oleh Ratri Sunar Astuti (2006: 49), yaitu:

  1. Anak-anak didorong agar mau melakukan sendiri kegiatan sehari-hari yang ia jalani seperti mandi sendiri, gosok gigi, makan sendiri, bersisir, berpakaian, dan lain sebagainya segera setelah mereka mampu melakukan sendiri.
  2. Anak diberi kesempatan sesekali mengambil keputusan sendiri, misalnya memilih baju yang akan dipakai.
  3. Anak diberi kesempatan untuk bermain sendiri tanpa ditemani sehingga terlatih untuk mengembangkan ide dan berpikir untuk dirinya. Agar tidak terjadi kecelakaan maka atur ruangan tempat bermain anak sehingga tidak ada barang yang membahayakan.
  4. Biarkan anak mengerjakan segala sesuatu sendiri walaupun sering membuat kesalahan.
  5. Ketika bermain bersama bermainlah sesuai keinginan anak, jika anak tergantung pada kita maka beri dorongan untuk berinisiatif dan dukung keputusannya.
  6. Dorong anak untuk mengungkapkan perasaan dan idenya
  7. Latihlah anak untuk mensosialisasi diri, sehingga anak belajar menghadapi problem sosial yang lebih kompleks. Jika anak ragu-ragu atau takut cobalah menemaninya terlebih dahulu, sehingga anak tidak terpaksa.
  8. Untuk anak yang lebih besar, mulai ajak anak untuk mengurus rumah tangga, misalmya menyiram tanaman, membersihkan meja, menyapu ruangan, dan lain-lain.
  9. Ketika anak mulai memahami konsep waktu dorong mereka untuk mengatur jadwal pribadinya, misalnya kapan akan belajar, bermain dan sebagainya. Orang tua bisa mendampingi dengan menanyakan alasan-alasan pengaturan waktunya.
  10. Anak-anak juga perlu diberi tanggung jawab dan konsekwensinya bila tidak memenuhi tanggung jawabnya. Hal ini akan membantu anak mengembangkan rasa keberartian sekaligus disiplin.
  11. Kesehatan dan kekuatan biasanya berkaitan juga dengan kemandirian, sehingga perlu memberikan menu yang sehat pada anak dan ajak anak untuk berolah raga atau melakukan aktivitas fisik.

Faktor yang Mendorong Tumbuhnya Kemandirian Anak

Kemandirian sangat dipengaruhi oleh kepercayaan diri. Dalam riset terbaru mengenai perkembangan kepercayaan diri dan kepercayaan antara anak dengan orang tua ditemukan bahwa jika anak merasa aman, maka anak akan lebih mau melakukan penjelajahan sendiri, lebih mampu mengelola stress, mempelajari ketrampilan baru, dan berhubungan dengan orang lain serta memiliki kepercayaan lebih bahwa mereka cukup kompeten untuk menghadapi lingkungan yang baru.

Untuk mendorong pertumbuhan dan kemandirian anak, Tracy Hogg dan Melinda Blau dalam bukunya “Secrets of the Baby Whisperer for Toddlersa” memperkenalkan konsep baru yang disebut dengan HELP (Hold your self back, Encourage exploration, Limit, and Praise), menjelaskan lebih lanjut bahwa dengan menahan diri kita akan mengumpulkan banyak informasi dengan memperhatikan, mendengarkan, dan menyerap seluruh gambar untuk menentukan apa dan siapa anak kita, sehingga kita dapat mengantisipasi kebutuhan dan memahami bagaimana respon anak tersebut pada lingkungan sekitar. Dengan menahan diri, kita juga dapat mengirimkan sinyal bahwa ia kompeten dan kita mempercayainya anak melakukan sesuatu sesuai dengan keinginannya.

Dengan mendorong penjelajahan, kita menunjukkan pada anak bahwa kita percaya pada kemampuannya untuk mengalami apa yang ditawarkan oleh kehidupan yang ia alami, dan kita ingin agar anak kita bereksperimen dengan benda-benda, orang, dan pada akhirnya ide-ide yang baru. Dengan demikian anak akan lebih terdorong untuk melakukan semua tindakan tanpa merasa takut dihantui oleh kita sebagai orang tuanya.

Kegiatan membatasi (limit), orang tua mengemukakan dengan benar peran kita sebagai orang dewasa, menjaga anak dalam batas aman, membantunya membuat pilihan yang tepat, dan melindungi anak tersebut dari situasi berbahaya baik secara fisik maupun secara emosional.

Dengan memuji (praise), kita mengukuhkan pembelajaran yang telah kita berikan, pertumbuhan, dan perilaku yang bermanfaat bagi anak ketika ia memasuki dunia dan berinteraksi dengan anak-anak dan orang dewasa lainnya. Hasil riset menunjukkan bahwa anak-anak yang diberikan pujian dengan benar, ia semakin terdorong untuk belajar lebih, dan dapat menikmati kerjasama yang terjalin antara dirinya dengan orang tuanya. Anak yang biasa diberikan pujian dengan benar menjadi lebih dapat lebih menerima masukan dari orang tuanya, dan bukan suatu hal yang kebetulan seandainya orang tua menjadi lebih perhatian dan penyayang. Pujian hanya diberikan jika anak telah melakukan perkerjaan dengan baik. Tujuan pujian bukanlah untuk membuat anak senang, melainkan untuk menekankan bahwa pekerjaan yang telah dilakukan dengan baik, untuk memuji sikap yang baik, dan mengakui ketrampilan sosial yang dimiliki anak, termasuk segi keramahan dan kerjasama. Dengan pujian anak akan tahu ia telah melakukan sesuatu dengan benar dan baik.

Kasih sayang dan cinta merupakan unsur ajaib dalam hal menjadi orang tua. Jika anak dicintai dan disayangi ia akan merasa aman dan ingin menyenangkan orang tuanya. Tidak ada kata terlalu banyak kasih sayang dan cinta, siapkah kita menjadi orang tua yang bijaksana.

Kemandirian Belajar Anak

Kemandirian belajar atau belajar mandiri (self-regulated learning) merupakan salah satu faktor yang turut menentukan keberhasilan belajar anak di Taman Kanak-kanak. Kemandirian belajar anak dapat dibangun dan dikembangkan melalui scaffolding yang sesuai, dengan mengikuti tahapan observasi diri, mengendalikan diri, dan akhirnya sampai pada apa yang disebut anak mandiri.

Menurut Zimmerman dalam Pape et.al.(2003) yang dikutip oleh Nani Ratnaningsih (2007: 50) terdapat tiga tahap kemandirian belajar, yaitu:

  1. Berpikir jauh ke depan. Dalam hal ini anak merencanakan perilaku  kemandirian dengan cara menganalisis tugas dan menentukan tujuan-tujuan.
  2. Kinerja dan kontrol. Dalam hal ini anak memonitor dan mengontrol perilakunya sendiri, kesadaran, memotivasi, dan emosi.
  3. Refleksi diri. Dalam hal ini anak menyatakan pendapat tentang kemajuan sendiri dan merubahnya sesuai dengan perilakunya.

Kemandirian belajar sangat dipengaruhi oleh kepercayaan diri (self-eeficacy) dan motivasinya, sehingga dapat dikatakan bahwa menjadi anak yang mandiri tergantung pada kepercayaan terhadap diri sendiri dan motivasinya. Sebagaimana telah disebutkan di atas, Zimmerman (Tillman dan Wiess, 2000) menyatakan bahwa anak yang mandiri yaitu anak yang mempunyai kepercayaan diri dan motivasi instrinsik yang tinggi. Begitu juga, Pintrich (1999) menekankan pentingya integrasi komponen motivasi dan kognitif dalam kemandirian belajar anak.

Para ahli Psikologi memberikan pengertian kemandirian belajar yang beragam dan cenderung berubah-ubah sesuai dengan teori yang digunakannya. Knain dan Turmo (2000) mengatakan bahwa kemandirian belajar adalah suatu proses yang dinamis dalam membangun pengetahuan, ketrampilan, dan sikap saat anak mempelajari konteks yang spesifik. Karena itu anak perlu  memiliki berbagai strategi belajar, pengalaman menerapkannya dalam berbagai situasi, dan mampu merefleksi secara efektif.

Sementara Wolters, Pintrich dan Karabenick (2003) mengemukakan bahwa kemandirian belajar adalah suatu proses konstruktif dan aktif anak dalam menentukan tujuan dalam belajar, dan mencoba untuk memonitor, mengatur, dan mengendalikan kognisi, motivasi, dan perilaku dengan dibimbing dan dibatasi oleh tujuan dan karakteristik kontekstual dalam lingkungan.

Sedangkan Montalvo dan Torres (2004) memberikan pengertian kemandirian belajar yaitu gabungan antara ketrampilan dan kemauan. Adapun menurut Sumarno (2004: 1) kemandirian belajar merupakan proses perancangan dan pemantauan diri yang seksama terhadap kognitif dan apektif dalam menyelesaikan tugas akademik. Dalam hal ini, Hargis yang dikutif Sumarno (2004: 1) menekankan bahwa kemandirian belajar bukan merupakan kemampuan mental atau keterampilan akademik tertentu, tetapi merupakan proses pengarah diri dalam mentranformasi kemampuan mental kedalam ketrampilan akademik tertentu.

Lebih lengkap Paris dan Winograd (2004) menjelaskan prinsip-prinsip kemandirian belajar terdiri dari dua belas prinsip, yang dikelompokkan menjadi empat kategori, yaitu:

  1. Menilai diri mengarah pada pemahaman belajar yang lebih dalam, menilai diri secara periodik akan bermanfaat bagi guru dan siswa, karena merupakan refleksi pada pembelajaran yang dinamik. Menilai diri tersebut terdiri atas:a) menganalisis gaya dan strategi belajar, membandingkannya dengan yang lain, meningkatkan kesadaran akan cara-cara belajar yang berbeda;b) mengevaluasi apa yang diketahui dan apa yang tidak diketahui, melihat keadaan pemahaman tetang pokok-pokok materi, mempromosikan upaya yang efesien;c) penilaian diri dari proses dan out-come secara periodik, adalah suatu kebiasaan yang bermanfaat untuk dikembangkan, karena akan meningkatkan pengendalian kemajuan, menstimulasi strategi yang diperbaiki, dan meningkatkan perasaan self-efficacy.
  2. Mengatur diri dalam berpikir, berupaya, dan meningkatkan pendekatan yang fleksibel pada pemecahan masalah yang adaptif (menyesuaikan diri), tekun, pengendalian diri, strategi, dan berorientasi tujuan.
    Mengatur diri terdiri atas:
    a) menargetkan tujuan yang sesuai dan dapat dicapai tetapi menantang, paling efektif dipilih anak;
    b) mengatur waktu dan sumber-sumber melalui perencanaan yang efektif dan pengontrolan, merupakan faktor penting dalam mengatur prioritas, mengatasi frustasi, dan dengan tekun menyelesaikan tugas;
    c) mereviu belajar mandiri, merevisi pendekatan, atau bahkan memulai sesuatu dari yang baru, memonitor diri, dan komitmen pribadi untuk mencapai kinerja  standar tinggi.
  3. Self-regulation dapat diajarkan dengan berbagai cara. Dikarenakan kemandirian belajar fleksibel dan adaptif, berbagai strategi yang berbeda dan motivasi dapat ditekankan pada anak yang berbda. Self-regulation dapat diajarkan dengan pengajaran secara eksplisit, refleksi langsung, dan diskusi metakognisi, dapat ditingkatkan secara langsung, dengan pemodelan dan aktivitas yang memerlukan analisa reflektif dari belajar, mengevaluasi, membuat peta, dan mendiskusikan bukti-bukri dari pertumbuhan seseorang, terpilih dalam pengalaman naratif dan identitas dari setiap individu.
  4. Belajar adalah bagian dari kehidupan seseorang, dan sebagai akibat dari karakter seseorang. Dengan pandangan ini, kemandirian belajar dibangun oleh karakter dari kelompok yang diikutinya. Paham ini mengisyaratkan kepada tiga indikasi berikut:
    a) bagaimana individu memilih untuk menilai dan memonitor perilaku mereka, umumnya konsisten dengan identitas yang mereka pilih dan inginkan;
    b) memperoleh perspektif sendiri pada pendidikan dan belajar, menyediakan suatu kerangka kerja naratif, yang akan memperdalam kesadaran pribadi dari self-regulation;
    c) partisipasi dalam suatu komunitas yang reflektif akan meningkatkan banyak dan kedalaman pengujian kebiasaan self-regulation seseorang.

Paris dan Winograd (2004) dan Nani Ratnaningsih (2007: 52) menjelaskan tiga karakter utama dari kemandirian belajar, yaitu: kesadaran berpikir, penggunaan strategi, dan memotivasi yang terpelihara. Masing-masing karakteristik tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut:

  1. Kesadaran berpikir. Metakognisi menurut Paris dan Winograd (2004) adalah berpikir tentang berpikir. Aspek-aspek dari metakognisi ketika mengembangkan kompetensi seseorang pada self-appraisal (menilai diri) dan self-management (mengatur diri),serta mendiskusikan bagaimana aspek-aspek dari pengetahuan ini dapat membantu mengarahkan supaya siswa mau belajar. Selain itu Bandura (Paris dan Winograd, 2004) menekankan bahwa kemandirian belajar melibatkan tiga roses yabg saling berkaitan; observasi diri, evaluasi diri, dan reaksi diri. Memahami ketiga prses ini, kemudian menggunakannya merupakan bagian metakognisi dari kemandirian belajar. Metakognisi merupakan kesadaran seseorang tentang proses berpikirnya pada saat melakukan tugas tertetu seperti doing match dan kemudian menggunakan kesadaran tersebut untuk mengontrol apa yang dilakukan.
  2. Penggunan strategi. Bagian kedua dari kemandirian belajar adalah melibatkan urutan yang berkembang dari seseorang untuk belajar mengendalikan emosi, mengejar tujuan, dan sebagainya. Paris, Lipson, dan Wixson dalam Paris dan Winograd (2004) menyatakan ada tiga komponen penting dari strategi metakognitif, sering merujuk pada pengetahuan deklarasi (apa yang disebut dengan strategi), pengetahuan prosedural (bagaimana strategi belajar), dan pengetahuan kondisional (kapan dan mengapa suatu strategi diterapkan). Mengetahui ketiga karakter strategi dapat membantu anak untuk membedakan strategi yang produktif, dan kemudian menerapkan strategi yang sesuai. Pada saat anak menjadi strategis, maka akan memperhatikan pilihan-pilihan sebelum strategi untuk menyelesaikan masalah. Pilihan ini merupakan kemandirian belajar, karena hasil dari analisis kognitif dari opsi-opsi alternatif untuk melakukan pemecahan masalah.
  3. Motivasi yang dipertahankan (sustained motivation). Aspek ketiga dari kemandirian belajar adalah motivasi, karena belajar memerlukan upaya dan pilihan. Kemandirian belajar melibatkan keputusan motivasional tentang tujuan suatu aktivitas, perasaan ketidakmampuan dan menilai tugas, persepsi diri tentang kemampuan untuk menyelesaikan tugas, dan keuntungan potensioal dari keberhasilan atau pertanggungjawaban atas kegagalan. Kesadaran dan refleksi dapat mengarah pada berbagai tindakan, bergantung pada moitivasi anak.

Adapun langkah-langkah pelaksanaan kemamndirian belajar menurut Bandura (Sumarno, 2004:2) terdiri dari tiga, yaitu mengamati dan mengawasi diri sendiri, membandingkan posisi diri dengan standar tertentu, dan memberikan respon sendiri (resopn positif dan respon negatif).

Zimmerman dalam Darr dan Fisher (2004) menjelaskan bahwa kemandirian belajar meliputi tiga fase utama yang berulang, yaitu forethought (pikiran sebelumnya atau sesudahnya), performance control (mengontrol kinerja), dan self-reflection (refleksi diri). Forethought melibatkan menganalisis tugas dan mengatur tujuan yang dikehendaki. Performance control mengacu pada memonitor da mengontrol tindakan kognitif, sikap, emosi, dan motivasi yang mempengaruhi kinerja. Self-reflection  berkaitan dengan membuat pertimbangan tentang apa yang telah dicapai dan merubah perilaku dan orientasi tujuan, abila diperlukan.

Ikuti Kelas Training Online YPKA “Seri Kemandirian”