cintaihidup.com

gambar Diambil Dari cintaihidup.com

 

ANAK saya, Antok, lahir tanggal 22 juli 1996. Antok tumbuh menjadi anak yang ceria. Pada usianya satu tahun responnya abaik. Setiap kali saya memanggil namanya pasti ia tersenyum. Bermain, tertawa dan tersenyum kata-kata kecil sudah bisa ia lakukan. Proses berjalanpun dilaluinya dengan baik.

Menginjak usia 17 bulan , Antok demam tinggi hingga mengalami kejang-kejang. Karena keterbatasan kami tentang penanganan anak sakit apalagi sampai kejang, maka Antok kami bawa ketempat praktek dokter yang sangat kaku seperti papan. Sesampainya ditempat dokter tersebut , syukur alhamdullillah selamat dan dirujuk kerumah sakit untuk rawat inap. Selama lima harin dirumah sakit Antok mendapatkan antibiotik.

Setelah pulih , maka kami pun membawanya pulang. Namun setelah dua hari berada dirumah, terkena diare dan berlangsung selama seharian. Kami membawanya kembali kerumah sakit dan ia menjalanin rawat inap lagi disana. Selama proses penyembuhan itu , kembalin Antok mendapatkan antibiotik untuk menyembuhkan sakitnya itu.

Setelah sembuh dari sakitnya , terlihat jelas sekali perubahan dalam diri Antok. Dia mulai cuek bila dipanggil namanya seolah dia tidak mendengar , tidak menoleh apalagi menghampiri. Padahal kami tau dia bisa mendengar suara, apalagi iklan faforitnya di TV. Dan dari prilaku , Anto mulai suka dan terpaku pada benda yang berputar seperti kipas angin, jarum jam, roda mobil, sepeda, atau motor. Selain itu dia juga suka memutar benda. Kontak mata dan kemampuan bicara yang sudah dikuasainya dulu lambat laun menghilang dan sampai akhirnya ia tidak lagi berbicara.

Gerakannya menjadi sangat hyperaktif dan tak terkendali. Karena kemampuan verbalnya menghilang , jika sedang mengiginkan sesuatu Antok hanya menarik tangan atau menunjuk apa yang dia inginkan. Seringkali apa yang dia minta bebeda dengan apa yangn kita berikan,karena kami tidak mengerti apa yang dia ungkapkan. Akibatnya Antok sering mengamuk , berteriak histeris , berguling dan membanting apa saja yang ada didekatnya.

Pola tidur malam yang tidak teratur , toilet training yang masih kacau , bantu diri yang sangat minim , kemampuan yang tidak sesuai dengan usia yang terus bertambah dan belum bisa berbicara sampai usia 4 tahun, membuat kami sadar ada yang tidak beres pada diri Antok. Tetapi kami sama sekali tidak tau apa yang dialami Antok saat itu.

Suatu hari , ada saudara kami yang memberikan informasi di media cetak tentang anak autis. Apa itu autis ? lalu kamipun membaca dan ciri-ciri yang disebutkan ternyata sama persisi dengan kondisi yang dialami Antok. Kami pun coba untuk brekonsultasi dengan dokter spesialis syaraf dan mendapati salah satu saraf otak yang mengalami kerusakan.

Konsultasi dan pemberian obat ini berlangsung selama tujuh bulan. Hyperaktifnya menurun tapi kemampuan yang lain belum nampak. Lantas dokter merujuk ke bagian rehab medik rumah sakit Dr. Soetomo disanalah kami mendapatkan diagnosa bahwa Antok adalah penyandang autis.

Saat itu, bagi saya yang adalah orang tua tunggal untuk Antok, Diagnosa dokter merupakan pukulan telak dimana impian saya tentang masa depan anak saya telah terengut oleh yang namanya autis. Namun saya berusaha menerima dengan tabah semua ujian yang diberikan oleh yang maha kuasa.

Tak banyak yang kami tau , tapi kami mulai mencari-cari informasi tentang autis dan penanganannya saran untuk terapipun kami jalankan . terapi prilaku disurabaya selama seminggu sekali selama dua bulan tidak banyak memberikan perkembangan untuk Antok. Karena memang idealnya 40 jam seminggu waktu yang dibutuhkan untuk terapi.

 

 

Dari rumah sakit Dr. Soetomo kami tahu bahwa ada pusat terapi dimalang dan kami memutuskan untuk memindahkan terapi Antok ke malang. Mulailah perjuangan panjang untuk menarik Antok dari “Dunianya” untuk masuk kedunia nyata yang jauh lebih indah dan bermakna. Dalam dua kali seminggu kami harus pulang pergi mengantar antok terapi ke malang. Diet GFCF, mengatur pola makan , mengajari toilet training , speech terapi dan materi akademik mulai dipelajari sedikit demi sedikit . kami juga menambahkan biomedical treatmen untuk menunjang perkembangan dari dalam.

Selama tiga tahun berjuang untuk Antok. Semua pengobatan medis , terapi ABA, alternatif dan BT dicoba untuk perkembangannya. Uang, Tenaga, keringat, air mata dan doa setiap hari kami keluarkan untuk Antok. Walaupun saat itu kami mengalami depresi yang cukup berat, tapi kami bersyukur karena Tuhan Yang maha Esa telah memberi kami jalan.

Semua yang telah kami korbankan dan keluarkan terasa sangat manis setelah apa yang telah ia capai sampai saat ini membawa hasil. Bebekal untuk keinginan membagi , memaksimalkan perkembangan Antok dan juga dorongan keluarga yang tak terhingga ,maka saya mendirikan pusatb terapi di tulungaggung , cahaya ananda , dengan harapan ananda-ananda istimewa ini agar kelak bisa menjadi cahaya bagi para orang tua istimewa ini.

Menerima Antok apa adanya tanpa ada tuntututan yang egosentrik kami sadari sebagai pintu menuju perkembangan dan kebahagiaan. Kami sadar , perjuangan kami belumlah usai , masih banyak yang harus kami selesaikan untuk mempersiapkan Antok dan anak anak lain disini menuju ke kemandirian dan kualitas hidup yang lebih baik.

 

Sumber :

Dian R Yanti  Special Needs Magazine, Anak Sepesial., Edisi Ke V Tahun Ke I

cintaihidup.com